Potret Besar Pemimpin Bangsa Kita “Indonesia”
Berasal
dari bangsa yang besar Bangsa Indonesia, ya sekarang ini kita berada di dalam belengu bangsa yang
kadang menjanjikan namun terkadang memberi harapan yang kering kerontang karena
beben bangsa yang begitu besar yang
tidak diimbangi dengan kemajuan sektor yang lainya. Realita Indonesia
ini sebenarnya makmur akan segala limpahan karuniaNya akan segala potensi alam
hingga sumber daya manusia, Namaun semua itu ironis dengan realita yang ada
yang bahkan dibatas sebuah kelayakan dari kenyataan yang ada di dunia ini.
Mashur
permai bangsa ini sebelum dan sesudah merdeka, ketika semua seperti gunungn
emas dan kolam susu, begitu subur bangsa permai ini seperti lagu dari Koes Plus.
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman
“Kita tak perlu tepuk
dan sorak kalau kita tak sanggup berjuang,” kata Bung Hatta. Ya
sekarang ini banyak pemimpinyang hanya mengumbar selogan dan teriakan saja,
hingga pada akhirnya sama saja mereka lebih senang menganjal perut sendiri
dibandingkan dengan perut rakyatnya, realita pemimpin bangsa besar ini begitu
memprihatinkan memang, Namun dari itu semua pasti ada orang yang selalu
mengemban sebuah prinsip untuk kemajuan bangsa ini. Indonesia dihadapkan pada
kenyataan lemahnya prinsip-prinsip kepemimpinan dan tidak adanya kepemimpinan
yang berjuang setelah menang dalam perebutan kekuasaan. Lebih banyak pemimpin
yang berjuang saat berebut kekuasaan. Lantas apa yang membuat kita gelisah dan
bertanya-tanya mengenai seperti apa pemimpin di republik ini?
Setiap hari kita selalu
menjumpai kasus kasus pemimpin bangsa ini seperti kasus korupsi, penyuapan,
narkoba bahkan, karena beristri dua, Itu jelas membuktikan bahwa bobroknya
bangsa ini di kepemimpinanya. Tim Litbang Kompas (24 Juli 2012) mencatat, tahun
ini jumlah kepala daerah (bupati/wali kota/gubernur) yang tersangkut korupsi
sebanyak 213 orang. Dari jumlah total 495 kepala daerah, berarti sekitar 43
persen kepala daerah bermasalah dengan kasus-kasus korupsi. Para kepala daerah
itu jauh dari harapan tipikal pemimpin modern yang seharusnya bersih dari korupsi,
berintegritas, populis, dan bekerja sepenuh hati untuk rakyat.
Itulah bukti bahwa
lemahya kepemimpinan di parpol yang seharusnya menjadi wakil rakyat bukan sebagai ajang mencari
kekayaan, yang akibatnya seperti keluhan Haji Agus Salim (1931), rakyat seolah
diperbuat seperti kayu mati, yang dirundingkan bagaimana caranya harus dikerat,
dipotong, dibelah, diketam, diketuk, dibentuk. Untuk keperluan siapa?
Memang tipe bangsa dan
masyarakat ini masih begitu bergantung dengan para pemimpin. Kepemimpinan
adalah “Jiwa dalam sebuah politik” yang
melekat dan mendarah daging di politik Tanah Air ini. Kepemimpinan politik yang
tegas, kuat, dan merakyat menjadi harapan perbaikan negara. Seorang
pemimpin pasti diperlukan. Namun, Jakob Oetama (2003)
mempertanyakan, pemimpin macam apa yang semakin mendesak dibutuhkan ketika orang menengok ke kiri dan ke kanan tak pula merasa menemukan sosok yang sepadan dengan tantangan zaman.
mempertanyakan, pemimpin macam apa yang semakin mendesak dibutuhkan ketika orang menengok ke kiri dan ke kanan tak pula merasa menemukan sosok yang sepadan dengan tantangan zaman.
Pemimpin bangsa yang diperlukan
dimasa yang akan datang adalah pemimpin yang berkaakter, bervisi, berkomitmen,
berkepribadian yang baik, dan menjadi suri tauladan yang baik bagi keluarga
maupun bagi rakyatnya. Untuk menhadapi masalah zaman yang mulai bergeser akan
kepribadian maupun karena dampak globag lemah ilisasi maupun karena mental yg
lemah maka kita membutuhkan pemimpin politik yang mampu, menyelenggarakan
kepemimpinan yang bersih dari kasus korupsi, mampu menyelenggarakan
kepemimpinan yang penuh dengan dedikasi untuk memajukan bangsa ini, mampu
menyelenggarakan kekuasaan yang beradap agar tidak mengunakan wewenang untuk
hal-hal yang menguntungkan dirisendiri.
”Negara yang rakyatnya hanya tahu
menerima perintah dan tidak pernah turut memperhatikan atau mengatur
pemerintahan negerinya, (berarti) tidak memiliki kemauan dan tidak melakukan
kemauan itu dengan rasa tanggung jawab penuh.” Kata Bung Hatta. Itulah realita
yang ada rakyat selalu tertindas karena ketidak berdayaanya dengan keadaan yang
ada di Indonesia, dengan kenyataan rakyat akan selalu tunduk dengan pemimpin meskipun siapa yang menjadi
pemimpinya.
Sebagai Calon-calon petinggi bangsa
kita harus ikut andil dalam penegaan hukum dan segala kebijakan-kebijakan di
Indonesia ini, meski pun aspirasi kita kadang hanya sebagai lelucon bagi
petinggi bangsa, namun kita telah berjuang untuk menegakkan kebenaran keadilan
dan kebenaran yang ada di Indonesia. Seperti kalimat yang ada di UUD’45
“sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak
segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus
dihapuskan.” .
Komentar
Posting Komentar
Silahkan saran dan partisipasinya...?
cendol cendol