HADIAH PALING INDAH
Dalam
sebuah kehidupan pasti akan ada lika-liku yang semakin tajam dan curam senada
dengan usia dan pengalaman kita. Asam manis garam semakin lebih tebal dimulut
hingga merasuk ke tulang kita,
kebisingan telinga kita dengan cercaan dan makain semakin sudah tak dianggap
repot karena semua itu hanya angin lalu saja yang tak pernah dianggap. Perang
dengan sebuah masalah adalah hal yang sangat wajar dengan kehidupan manusia.
Masalah demi masalah kian ku alami
ketika aku mulai menginjak SMP, keadaan keluargaku yang dulunya sederhana
menurut aku harus hancur oleh ulah orang yng tidak bertanggung jawab dan tega
menghancurkan usaha ibuku waktu itu. Usaha itu memang tak begitu besar namun
dengan usaha itu kami hidup kami bisa makan dengan layak dan bisa sekolah. Namun
apa daya ketika masalah itu datang semua menjadi hancur bahkan waktu itu kami
tak memiliki apa-apa, ditambah lagi kabar buruk seperti bertubi-tubi datang,
aku mendapati ibuku terbaring lemas dirumah sakit dan diagnosa penyakit kangker
rahim dan payudara menggerogotinya. Entah apa dosa yang keluarga ku perbuat
hingga masalah demi masalah datang bagaikan bom atom yang menghantam dahsyat.
Saat itu memang semua menjadi
berubah, yang kami miliki mendadak lenyap dalam pandangan hingga bapak ku juga
lenyam ditelan ganasnya hidup, bapakku memutuskan mengadu nasib di tanah bali
seperti saat dia masih bujang, semata-mata untuk menghidupi keluarga ku dan
perawatan ibuku tentunya. Beberapa tahun mengadu nasib di Bali tak sedikit
membuahkan nasib bagi keluarga kami, meski dalam keadaan pas-pasan namun
keluagra ku masih bisa bertahan.
Awal sebuah perjalanan kehidupanku
dengan or ng lain akan segera dimulai, setelah bapakku pulang rasa bahagia
memang ada, namun akau harus menerima kenyataan aku harus berpisah dengan
keluargaku karena keluargaku tak mampu membiayai pendidikan waktu itu. Sedih
namun apa daya yang ada dipikiranku waktu itu asal aku bisa lanjutin pendidikan
SMA ku waktu itu, tingggal dengan orang lain bagiku tak masalha toh hanya tiga
tahun aja, mungkin waktu yang sebentar.
Tinggal dengan orang lain memang
sedikit keras dengan aturan dan segala yang harus dikerjakan , belum lagi
dengan tugas kita sebagai pelajar waktu itu sedikit terbengkalai awal-awalnya,
namun dengan membiasakan akhirnya bisa juga. Diperlakukan dengan tidak enak
sering menjadi alasan aku untuk melampiaskan dengan hal-hal diluar seperti main
sampai malam. Namun tak beberapa lama, ada yang harus aku ubah dari keluarga ku
sehingga aku bisa sampai di perguruan tinggi saat ini.
Tak pernah terbayangkan dulu bisa menempuh
hingga perguruan terbayangkan seperti saat ini. Menatap kedepan lebih jauh itu
hal mustahil waktu itu, namun apa sekarang aku bisa tanpa merepotkan kedua
orang tuaku. Masa-masa sulit seperti dituduh mencuri di tempat yang aku
tinggali, penindasan dan sebagainya sudah pernah aku alami, namun itu semua lah
yang membuat aku lebih kuat menghadapi hidup ini. Ada banyak yang kurang
beruntung dibandingkan aku waktu itu. Hanya rasa sukur yang bisa mewakili ku
waktu itu.
Kerja
keras dimulai dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah hingga jam 7 malam
selanjutnya tidur sampai jam 8 dilanjutkan dengan belajar hingga jam 1 bahkan 2
malam. Kerja keras dan persaingan dimulai dari nol, titik menangis karena kalah
dari laki-lakipun pernah aku alami. Namun itu menjadi semangat ku untuk menjadi
lebih kerja keras dan berusaha. Persaingan itu yng selalu membuat aku semakin
kuat dan turus untuk berkarya.
Tiba
saat kelulusan tiba semua sibuk untuk memiilih-milih universitas yang
diinginkan ataupun kedinasan yang diinginkan. Aku palah sibuk untuk melamar
pekerjaan kesana kemari. Desnakertrans, ke Batam t hingga melamar jadi TKI pun
aku lakukan. Waktu itu yang ada dipikiranku hanya agar bisa dapet uang banyak.
Tak pernah berfikir untuk menjadi yang lebih baik dengan sebuah pengalaman.
Daya
apa dengan semua yang terjadi Tuhan memberikan jalan yang begitu indah dengan
mengirimkan guru yang baik hati yang memberikan pencerahan dengan biasiswa ,
waktu itu mungkin hanya iseng yang ku miliki dengan yang lain karena pksaan
dari guru tersebut. Pilih dan pilih jurusan yang tidak akau mengerti, saat itu
fikiran tak ada angan untuk malanjutkan. Mungkin mendaftar tadi hanya sebuah
bentuk keharusan waktu itu, mengikuti alur pendaftaran yang tidak aku mengerti
dan tetap bersikeras untuk bekerja.
Tiba
waktu itu aku sedang bekerja di salah satu toko kelontong didaerah ku, dering
telfon mengetarkanku dalam sebuah lamaunan masa depan waktu itu. Ternyata dari
teman akrabku memeberi tau bahwa waktu pengumuman penerimaan mahasiswa baru
sudah bisa dilihat di web. Waktu itu hanya sebuah angan saja yang memberikanku
harapan untuk diterima, namun itu bagiku adalah hal yang mustahil, Tuhan tak
pernah tidur untuk setiap hamba-hambanya. Setelah bergelut dengan rasa
penasaran yang amat ku buka dan kudapati aku diterima di Universitas negeri
dengan biasiswa full. Hati buncah dengan rasa haru, ku peluk seiap orang yang
selalu memberikan dukungan untuk ku, ku menangis haru akan keajaiban yang Tuhan
titipkan untuk ku. Terimakasih Tuhan karena kerja keras ku sudah kau bayar
dengan hal yang begitu indah. Mengawali tapak tilas penuh rona kebahagiaan. Dalam
sebuah kehidupan pasti akan ada lika-liku yang semakin tajam dan curam senada
dengan usia dan pengalaman kita. Asam manis garam semakin lebih tebal dimulut
hingga merasuk ke tulang kita,
kebisingan telinga kita dengan cercaan dan makain semakin sudah tak dianggap
repot karena semua itu hanya angin lalu saja yang tak pernah dianggap. Perang
dengan sebuah masalah adalah hal yang sangat wajar dengan kehidupan manusia.
Masalah demi masalah kian ku alami
ketika aku mulai menginjak SMP, keadaan keluargaku yang dulunya sederhana
menurut aku harus hancur oleh ulah orang yng tidak bertanggung jawab dan tega
menghancurkan usaha ibuku waktu itu. Usaha itu memang tak begitu besar namun
dengan usaha itu kami hidup kami bisa makan dengan layak dan bisa sekolah. Namun
apa daya ketika masalah itu datang semua menjadi hancur bahkan waktu itu kami
tak memiliki apa-apa, ditambah lagi kabar buruk seperti bertubi-tubi datang,
aku mendapati ibuku terbaring lemas dirumah sakit dan diagnosa penyakit kangker
rahim dan payudara menggerogotinya. Entah apa dosa yang keluarga ku perbuat
hingga masalah demi masalah datang bagaikan bom atom yang menghantam dahsyat.
Saat itu memang semua menjadi
berubah, yang kami miliki mendadak lenyap dalam pandangan hingga bapak ku juga
lenyam ditelan ganasnya hidup, bapakku memutuskan mengadu nasib di tanah bali
seperti saat dia masih bujang, semata-mata untuk menghidupi keluarga ku dan
perawatan ibuku tentunya. Beberapa tahun mengadu nasib di Bali tak sedikit
membuahkan nasib bagi keluarga kami, meski dalam keadaan pas-pasan namun
keluagra ku masih bisa bertahan.
Awal sebuah perjalanan kehidupanku
dengan or ng lain akan segera dimulai, setelah bapakku pulang rasa bahagia
memang ada, namun akau harus menerima kenyataan aku harus berpisah dengan
keluargaku karena keluargaku tak mampu membiayai pendidikan waktu itu. Sedih
namun apa daya yang ada dipikiranku waktu itu asal aku bisa lanjutin pendidikan
SMA ku waktu itu, tingggal dengan orang lain bagiku tak masalha toh hanya tiga
tahun aja, mungkin waktu yang sebentar.
Tinggal dengan orang lain memang
sedikit keras dengan aturan dan segala yang harus dikerjakan , belum lagi
dengan tugas kita sebagai pelajar waktu itu sedikit terbengkalai awal-awalnya,
namun dengan membiasakan akhirnya bisa juga. Diperlakukan dengan tidak enak
sering menjadi alasan aku untuk melampiaskan dengan hal-hal diluar seperti main
sampai malam. Namun tak beberapa lama, ada yang harus aku ubah dari keluarga ku
sehingga aku bisa sampai di perguruan tinggi saat ini.
Tak pernah terbayangkan dulu bisa menempuh
hingga perguruan terbayangkan seperti saat ini. Menatap kedepan lebih jauh itu
hal mustahil waktu itu, namun apa sekarang aku bisa tanpa merepotkan kedua
orang tuaku. Masa-masa sulit seperti dituduh mencuri di tempat yang aku
tinggali, penindasan dan sebagainya sudah pernah aku alami, namun itu semua lah
yang membuat aku lebih kuat menghadapi hidup ini. Ada banyak yang kurang
beruntung dibandingkan aku waktu itu. Hanya rasa sukur yang bisa mewakili ku
waktu itu.
Kerja
keras dimulai dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah hingga jam 7 malam
selanjutnya tidur sampai jam 8 dilanjutkan dengan belajar hingga jam 1 bahkan 2
malam. Kerja keras dan persaingan dimulai dari nol, titik menangis karena kalah
dari laki-lakipun pernah aku alami. Namun itu menjadi semangat ku untuk menjadi
lebih kerja keras dan berusaha. Persaingan itu yng selalu membuat aku semakin
kuat dan turus untuk berkarya.
Tiba
saat kelulusan tiba semua sibuk untuk memiilih-milih universitas yang
diinginkan ataupun kedinasan yang diinginkan. Aku palah sibuk untuk melamar
pekerjaan kesana kemari. Desnakertrans, ke Batam t hingga melamar jadi TKI pun
aku lakukan. Waktu itu yang ada dipikiranku hanya agar bisa dapet uang banyak.
Tak pernah berfikir untuk menjadi yang lebih baik dengan sebuah pengalaman.
Daya
apa dengan semua yang terjadi Tuhan memberikan jalan yang begitu indah dengan
mengirimkan guru yang baik hati yang memberikan pencerahan dengan biasiswa ,
waktu itu mungkin hanya iseng yang ku miliki dengan yang lain karena pksaan
dari guru tersebut. Pilih dan pilih jurusan yang tidak akau mengerti, saat itu
fikiran tak ada angan untuk malanjutkan. Mungkin mendaftar tadi hanya sebuah
bentuk keharusan waktu itu, mengikuti alur pendaftaran yang tidak aku mengerti
dan tetap bersikeras untuk bekerja.
Tiba
waktu itu aku sedang bekerja di salah satu toko kelontong didaerah ku, dering
telfon mengetarkanku dalam sebuah lamaunan masa depan waktu itu. Ternyata dari
teman akrabku memeberi tau bahwa waktu pengumuman penerimaan mahasiswa baru
sudah bisa dilihat di web. Waktu itu hanya sebuah angan saja yang memberikanku
harapan untuk diterima, namun itu bagiku adalah hal yang mustahil, Tuhan tak
pernah tidur untuk setiap hamba-hambanya. Setelah bergelut dengan rasa
penasaran yang amat ku buka dan kudapati aku diterima di Universitas negeri
dengan biasiswa full. Hati buncah dengan rasa haru, ku peluk seiap orang yang
selalu memberikan dukungan untuk ku, ku menangis haru akan keajaiban yang Tuhan
titipkan untuk ku. Terimakasih Tuhan karena kerja keras ku sudah kau bayar
dengan hal yang begitu indah. Mengawali tapak tilas penuh rona kebahagiaan.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan saran dan partisipasinya...?
cendol cendol